Paradise pict

Paradise pict

Thursday, March 28, 2013

Part 39

Like my promise (Part 39)

Stella pov

Gelap, kenapa semua begitu gelap ? Dimana aku ? Apa ini sebuah kematian ?
"Stella.." suara itu terdengar hangat dan tidak asing
"dad ? Apa itu kau ?" aku mencoba mencari asal suara itu. Sebuah cahaya terang datang dari satu titik dan menyilaukan pandanganku. Seseorang terlihat berjalan didalam cahaya sana
"dad itu pasti kau !" aku berlari menghampiri cahaya itu. Namun ada satu pembatas yang menghalangiku untuk lebih mendekatinya
"ini bukan waktunya. Kembalilah pulang" suara lain datang dari arah yang sama.
"mom itu kau ?" panggilku yang hafal dengan suaranya
"ini kami ella. Mom dad dan lily. Kembalilah. Ikuti kata hatimu. Ini bukan waktumu nak" mom tersenyum menatap ke arahku. Ingin sekali aku memeluk mereka satu persatu
"ella, ingatlah sebuah kenangan yang begitu indah dalam hidupmu. Hal itu akan membawamu pulang"
"tidak ly. Aku ingin ikut bersama kalian. Bawa aku pergi bersama kalian" aku menatap ke arah lily. Lily hanya tersenyum
"tidak, ini bukan waktumu. Kami harus kembali. Ingat kenangan yang begitu indah dalam hatimu" lily kembali mengatakan hal yang sama. Perlahan cahaya itu semakin menjauh dan memudar
"mom dad ! Dimana kalian ? Lily kau dimana ? Kita tidak sedang bercanda ! Aku takut" seruku saat mendapati aku kembali sendiri di tempat yang gelap dan tak ada seorang pun
"Siapa pun sadarkan aku. Aku takut ! Aku ingin sadar" aku menjabak rambutku kesal. Jika ini bukan waktuku untuk mati. Kenapa aku tidak bisa sadar ?
''wake up stella wake up!" aku berkata pada diriku sendiri
"stella. Maafkan aku, maafkan aku. Ini pesan terakhirku. Jaga alex. Ku mohon. Jaga dia. Dan maaf kan semua kesalahanku" suara itu bergema. Aku tau itu suara kylie. Tapi dimana dia ?
"kylie ? Kau dimana ?"
"maaf stella maaf. Kumohon jaga alex untukku"
"aku memaafkanmu. Aku akan menjaga alex seperti anakku sendiri. Tapi kau dimana ?" aku terus berjalan mencari asal suara itu. Aku lelah, aku tidak menemukan siapa pun. Aku pasti sudah mati ! Tapi tidak. Cody dia masih mengharapkanku

"kenang sesuatu yang indah dalam hidupmu. Ingatlah" suara lily seakan akan berputar di otakku

"kenangan. Kenangan indah dalam hidupku. Cody melamarku diatas biang lala. Itu adalah kenangan terindah dalam hidupku" aku menutup mataku dan mengucapkan kata2 itu

"Cody cody cody help me please" batinku. Wajahnya mulai terlintas di otakku

Ada suara yang tak asing di ujung sana. Aku membuka mataku. Masih ditempat yang gelap dan sama. Ya tuhan apa aku tidak bisa kembali ?

Suara tangisan itu semakin kencang

''alex. Itu suara alex. Dia menangis. Sayang kau dimana ?" panggilku. Suara alex terdengar jelas di ujung sana. Aku berlari untuk mendekatinya. Sesuatu menarik tubuhku kasar, aku terjatuh. Entah jatuh dari mana. Tapi ini terasa seperti aku terjatuh dari ketinggian 100 meter

***

tanda pada alat itu mulai lurus. Seorang dokter dan 2 orang suster meletakan sebuah alat pemicu jantung pada dada seorang wanita yang tengah sekarat
"sekali lagi !" sang dokter menggesekan alat itu dan kembali meletakannya di atas dada wanita tersebut

"Peningkatan detak jantung. Pasien bernafas !" ujar sang suster tersenyum
"kita berhasil. Naikan oksigen'' perintah sang dokter. Dengan cepat suster tersebut melaksanakan perintah sang dokter

"cek semua alat2 yang terpasang. Saya harus menemui keluarga pasien"

***

Cody Pov

Aku menunggu dengan setia diluar sebuah ruangan bertuliskan emergency. Alex berada dalam dekapanku. Dia menangis seolah olah dia mengerti apa yang sedang terjadi pada aunt nya. Mom terus menangis, dad mencoba menenangkan. Begitu juga alli dan tom yang sama2 khwatir. Kami memang belum siap jika harus ditinggalkan oleh stella. Seorang dokter keluar dari dalam ruangan tersebut
"saudara suami dari pasien yg bernama stella ?"
"iya dok. Saya suami nya" ujarku
"ikut saya ke ruangan"
ujarnya lalu berjalan lebih dulu. Isakan mom semakin terasa. Alex masih menangis dalam gendonganku. Aku berjalan tepat dibelakang sang dokter
"saudara cody. Ini mujizat dari tuhan. Istri ada selamat. Dia sudah dipindahkan ke ruang pemulihan. Namun masih dengan perawatan yang serius" ujar sang dokter. Aku tersenyum, merasa bahagia bahwa stella belum pergi meninggalkanku. Aku tau dia wanita yang kuat
"trimakasi dok trimakasih" ujarku menjabat tangannya
"tapi sangat disayangkan" nada suara dokter tersebut berubah berat. Aku menautkan halisku heran
"tapi apa dok ?" tanyaku khawatir
"janin dalam perut istri ada tidak selamat. Istri anda mengalami keguguran" ujarnya.
Jauh, udara terasa menipis. Harapanku, harapan kami, bayi kami. Dia tidak bertahan, dia pergi. 













Bentar lagi LMP ini End jadi harap di baca dengan mengerti supaya cerita ini bisa didapati maknanya ;)

No comments:

Post a Comment