Like my promise (Part 39)
Stella pov
Gelap, kenapa semua begitu gelap ? Dimana aku ? Apa ini sebuah kematian ?
"Stella.." suara itu terdengar hangat dan tidak asing
"dad ? Apa itu kau ?" aku mencoba mencari asal suara itu. Sebuah cahaya
terang datang dari satu titik dan menyilaukan pandanganku. Seseorang
terlihat berjalan didalam cahaya sana
"dad itu pasti kau !" aku berlari menghampiri cahaya itu. Namun ada satu pembatas yang menghalangiku untuk lebih mendekatinya
"ini bukan waktunya. Kembalilah pulang" suara lain datang dari arah yang sama.
"mom itu kau ?" panggilku yang hafal dengan suaranya
"ini kami ella. Mom dad dan lily. Kembalilah. Ikuti kata hatimu. Ini
bukan waktumu nak" mom tersenyum menatap ke arahku. Ingin sekali aku
memeluk mereka satu persatu
"ella, ingatlah sebuah kenangan yang begitu indah dalam hidupmu. Hal itu akan membawamu pulang"
"tidak ly. Aku ingin ikut bersama kalian. Bawa aku pergi bersama kalian" aku menatap ke arah lily. Lily hanya tersenyum
"tidak, ini bukan waktumu. Kami harus kembali. Ingat kenangan yang
begitu indah dalam hatimu" lily kembali mengatakan hal yang sama.
Perlahan cahaya itu semakin menjauh dan memudar
"mom dad ! Dimana
kalian ? Lily kau dimana ? Kita tidak sedang bercanda ! Aku takut"
seruku saat mendapati aku kembali sendiri di tempat yang gelap dan tak
ada seorang pun
"Siapa pun sadarkan aku. Aku takut ! Aku ingin
sadar" aku menjabak rambutku kesal. Jika ini bukan waktuku untuk mati.
Kenapa aku tidak bisa sadar ?
''wake up stella wake up!" aku berkata pada diriku sendiri
"stella. Maafkan aku, maafkan aku. Ini pesan terakhirku. Jaga alex. Ku
mohon. Jaga dia. Dan maaf kan semua kesalahanku" suara itu bergema. Aku
tau itu suara kylie. Tapi dimana dia ?
"kylie ? Kau dimana ?"
"maaf stella maaf. Kumohon jaga alex untukku"
"aku memaafkanmu. Aku akan menjaga alex seperti anakku sendiri. Tapi
kau dimana ?" aku terus berjalan mencari asal suara itu. Aku lelah, aku
tidak menemukan siapa pun. Aku pasti sudah mati ! Tapi tidak. Cody dia
masih mengharapkanku
"kenang sesuatu yang indah dalam hidupmu. Ingatlah" suara lily seakan akan berputar di otakku
"kenangan. Kenangan indah dalam hidupku. Cody melamarku diatas biang
lala. Itu adalah kenangan terindah dalam hidupku" aku menutup mataku dan
mengucapkan kata2 itu
"Cody cody cody help me please" batinku. Wajahnya mulai terlintas di otakku
Ada suara yang tak asing di ujung sana. Aku membuka mataku. Masih
ditempat yang gelap dan sama. Ya tuhan apa aku tidak bisa kembali ?
Suara tangisan itu semakin kencang
''alex. Itu suara alex. Dia menangis. Sayang kau dimana ?" panggilku.
Suara alex terdengar jelas di ujung sana. Aku berlari untuk
mendekatinya. Sesuatu menarik tubuhku kasar, aku terjatuh. Entah jatuh
dari mana. Tapi ini terasa seperti aku terjatuh dari ketinggian 100
meter
***
tanda pada alat itu mulai lurus. Seorang
dokter dan 2 orang suster meletakan sebuah alat pemicu jantung pada dada
seorang wanita yang tengah sekarat
"sekali lagi !" sang dokter menggesekan alat itu dan kembali meletakannya di atas dada wanita tersebut
"Peningkatan detak jantung. Pasien bernafas !" ujar sang suster tersenyum
"kita berhasil. Naikan oksigen'' perintah sang dokter. Dengan cepat suster tersebut melaksanakan perintah sang dokter
"cek semua alat2 yang terpasang. Saya harus menemui keluarga pasien"
***
Cody Pov
Aku menunggu dengan setia diluar sebuah ruangan bertuliskan emergency.
Alex berada dalam dekapanku. Dia menangis seolah olah dia mengerti apa
yang sedang terjadi pada aunt nya. Mom terus menangis, dad mencoba
menenangkan. Begitu juga alli dan tom yang sama2 khwatir. Kami memang
belum siap jika harus ditinggalkan oleh stella. Seorang dokter keluar
dari dalam ruangan tersebut
"saudara suami dari pasien yg bernama stella ?"
"iya dok. Saya suami nya" ujarku
"ikut saya ke ruangan"
ujarnya lalu berjalan lebih dulu. Isakan mom semakin terasa. Alex masih
menangis dalam gendonganku. Aku berjalan tepat dibelakang sang dokter
"saudara cody. Ini mujizat dari tuhan. Istri ada selamat. Dia sudah
dipindahkan ke ruang pemulihan. Namun masih dengan perawatan yang
serius" ujar sang dokter. Aku tersenyum, merasa bahagia bahwa stella
belum pergi meninggalkanku. Aku tau dia wanita yang kuat
"trimakasi dok trimakasih" ujarku menjabat tangannya
"tapi sangat disayangkan" nada suara dokter tersebut berubah berat. Aku menautkan halisku heran
"tapi apa dok ?" tanyaku khawatir
"janin dalam perut istri ada tidak selamat. Istri anda mengalami keguguran" ujarnya.
Jauh, udara terasa menipis. Harapanku, harapan kami, bayi kami. Dia tidak bertahan, dia pergi.
Bentar lagi LMP ini End jadi harap di baca dengan mengerti supaya cerita ini bisa didapati maknanya ;)
No comments:
Post a Comment