Paradise pict

Paradise pict

Friday, November 29, 2013

Short Story. Perkenalan :)

guys! untuk kali ini gue lagi buat short story yg sedikit menuju ke novel. perkenalannya yang dibawah ini yah. yg seterusnya masih dirahasiain sama judulnya, key? selamat membaca. :)

Pagi hari yang indah di Sekolah SMA Pelita Jakarta.  Sekolah yang terkenal sebagai sekolah impian para pelajar ini sedang mengalami gossip yang paling Hot, yaitu Siswi cantik yang baru pindah dari Manado, Sulawesi Utara. Namanya– Elizabeth Christiani Hermet. Perempuan yang berjiwa Virgo yang lahir tanggal 11–September–1997, pulang ketempat asalnya untuk meneruskan sekolah di Jakarta. (dst)



Thank You <3

Tuesday, November 26, 2013

New Song by Alli Simpson

"Notice Me"
Tripping on a glances
Please take your time
But I won't, be here, forever

Once for taking chances
But keep in mind
That I won't, be here, forever

And I'm all ooooooo
What's a girl to do (oooo)
If I can't have you (oooo)
Then I don't want anyone but

If these tears were gasoline
I'd light a fire, make you notice me
Swim in a line, it's all to make you see (eee)
Nothing to crazy, if it makes you notice me

Look at me, I'd walk a tight rope over storming seas
I'd fight a lion, build a galaxy
Nothing to crazy, if it makes you notice me

Like a supernova, you're blinding me
And we won't, be here, forever
When the day is over, come look for me
Cause we won't be her forever

And I'm all ooooooo
What's a girl to do (oooo)
If I can't have you (oooo)
Then I don't want anyone but

If these tears were gasoline
I'd light a fire, make you notice me
Swim in a line, it's all to make you see (eee)
Nothing to crazy, if it makes you notice me

Look at me, I'd walk a tight rope over storming seas
I'd fight a lion, build a galaxy
Nothing to crazy, if it makes you notice me

I'm, not, giving up, I'm not giving up
I'm, not, giving up

If these tears were gasoline, I'd light a fire make you notice me
Swim in a line, it's all to make you see (ee)
Nothing to crazy if it makes you notice me

Gasoline, I'd light a fire make you notice me
Swim in a line, it's all to make you see
Nothing to crazy, if it makes you notice me

Look at me, I'd walk a tight rope over storming seas
I'd fight a lion, build a galaxy
Nothing to crazy, if it makes you notice me

I'm, not, giving up, I'm not giving up
I'm, not, giving up
I'm, not, giving up, I'm not giving up
I'm, not, giving up

By : Alli Simpson

Saturday, April 13, 2013

Best Day Ever?!

Guys, is the best day everrrrrrrrrr.

4/9/2013

aw--- aw--- aw---
Saya sebagai pemilik Blog mau ngepost tentang Kehidupan saya yang lebih greget daripada kalian.

Kejadiannya gini ...........
beberapa aja yah. cekidot :
- berturut-turut ketemu +Dean Montolalu
- talking bareng @TimothyManopo blablabla
- dianter pulang oleh @shinjimasengi1
- etc.

 It's the best day everrrrr, best day everrrr


sampe di rumah gue kayak Crazier. Mama gue nanya :
" kenapa Fabs kok girang gitu? " tanya mama
" gak kok ma" jawab gue
itulah HIDUP, selalu dihiasi dengan canda tawa yang di anugrahkan Tuhan.

Awake All Night

Awake All Night

It’s 2:50 in the morning, and I’m still thinking ‘bout you baby
I’m so vividly yawning, but I’m still thinking ‘bout you baby
Heaven up above is aware of every bit of you baby
I think I’m in love with every single bit of you baby

I don’t know if I’ll fall asleep tonight
 When you won’t, just won’t get off my mind

Instead of counting sheep, I count the stars within your eyes
I wish that I could sleep, but those stars are way too bright
It’s all about you, with or without you, if it wasn’t I’d be fine
But the thing is, everything is, and I’ve been awake all night

It’s 4:15 in the morning, and it’s still the same old story baby
Staring at the roof for hours, but I really don’t find it boring baby
Painting my feelings on the ceiling, and it’s always just a portrait of you
If my Life are a box of chocolates, then they’re the great assortments of you

I don’t know if I’ll fall asleep tonight
Cause you won’t, just won’t get off my mind

Instead of counting sheep, I count the stars within your eyes
I wish that I could sleep, but those stars are way too bright
It’s all about you, with or without you, if it wasn’t, I’d be fine
But the thing is, everything is, and I’ve been awake all night

I’ve been awake all night



CODY R SIMPSON

Tuesday, April 9, 2013

YURI NATASCHA: KINAN (Part 1)

YURI NATASCHA: KINAN (Part 1): Untuk Mona, gadis yang saat ini sedang duduk di hadapannya harus diselidiki. Sesaat Mona sadar, dia tidak punya hak ikut campur dalam masal...

Tuesday, April 2, 2013

Selebrasi Paskah

hey Brayyyyyyyy

Pemalu yah emang pemalu. Gak ada tuhh namanya pemalu jadi tidak pemalu, iya kan?

Guys, kalian udah tau gak gue agama apa? kalo kalian mau tau gue tuh Kristen Protestan " GMIM ". Kemaren 1 april 2013 diSulut ada dirayain Selebrasi Paskah se-Sinode yang bertempat di Amurang daerah Minahasa Selatan. Salah satu bagian dari event ini adalah Parade yaitu semua remaja berjalan dari start sampai finish, 6km adalah jarak antara finish dan start.

Sekitar 2jam perjalanan sampailah gue ama segerombolan orang-orang yang pemalu tingkat badai topan yang disebut teman-teman remaja gue di Kota Amurang yang sangat panas dan jauh dari Kota Tomohon. Sesampai disana kami tuh kayak manusia dari desa gitu, cause kita di mobil udah gak ada udara seger selain terik matahari yang membuat mobil jadi banjir keringat.

Yap, gue janjian ama cowok yang keceh badai halilintar yang gak bisa lohh temuin di seluruh jagat raya yang ULALA dan topan cetar membahana. Kalian pasti udah tau siapa! apa yang kalian maksud Cody? yang pasti tidak! tentunya yang gue maksutin ialah Motss cowok gua yang mempesona badaaaaiiiiiiiii.

1 jam kemudian kami akan mengikuti parade tetapi karena dikarnakan cuaca yang panas yang ulala banget, jadinya kami tidak mengikuti parade tersebut -_-. Padahal gue ama segerombolan orang yang pemalu badai itu udah siap-siap untuk follow the parade! kita tuh udah pake baju yang semacam kemeja gitu yang dibelakangnya tertulis IMANUEL TEENS , tapi akhirnya kami tuh tidak diikut sertakan.

Berjam-jam kemudia kami hanya melihat Remaja yang berasal dari pelosok sampe kota ngikutin parade tapi kita gak ikut *kesel. Tetapi kita tuhh gak nyesel sebanget-bangetnya karena lebih baik kita tidak ikut parade daripada ikut parade tersebut. Kenapa yah? karena kayaknya kalo kita ikut parade tersebut tetep aja sia-sia karena remaja-remaja dari Walian di jemaat Imanuel sangat pemalulululululululu. Liat aja yang Remaja dari jemaat lain urat malunya udah putus jadi bisa dibilang gak tau malu yah. dibandingkan dengan Imanuel teens yang sangat pemalu -_-. Emang dasar pemalu Jemaat gue yang disebut Imanuel Teens *embrassed*.

Akhirnya gua gak bisa ketemu dehh ama cowok yang halilintar keceh badai -_-. *keseljugagueternyata*

Thanks God you'll gave the best for us :*.
The End

Part 40

Like My Promise (Part 40 or Last Part)

Author P0V

Wanita bermata biru itu terlihat turun dari mobil volvo yang terparkir apik di depat rumah berpilar 4 itu. Tangannya menggendong seorang anak laki2 yang tertidur, dibelakang tubuhnya seorang pria berperawakan tinggi membantunya untuk berjalan

"pelan pelan" ujarnya lembut sebari memegang tangan wanita itu. Stella, wanita itu tersenyum manis dan melanjutkan langkahnya hati2. Ini sudah minggu ke 2 sejak stella mengalami kecelakaan, kini keadaan semakin membaik, stella mulai terbiasa melaksanakan tugasnya sebagai istri dari seorang pengusaha bernama cody. Mereka baru saja pulang dari makan kylie. Ya, kylie sudah meninggal, dia tewas dalam kecelakaan 2 minggu lalu. Kecelakaan yang ternyata berujung pahit pada diri stella. Stella dinyatakan keguguran, janin dalam perutnya terlalu lemah untuk menerima benturan keras aspal. Tapi stella tetap bersyukur, dia masih diberikan kehidupan oleh Tuhan, dia masih bisa merasakan senyum, peluk, sayang dari orang2 yang dia cintai. Terutama suaminya Cody. Dengan alasan yang baik. Stella dan cody memutuskan untuk mengadopsi alex sebagai anak mereka. Stella sangat menyayangi alex. Tangisan alex lah yang membutnya sadar, tidak ada rasa dendam pada diri stella, mungkin kylie memang berkelakuan tidak baik. Tapi toh itu tidak berlaku pada alex, yang stella lihat dari alex hanyalah bagaimana membuat hidup alex sebaik mungkin. Ah sudahlah, itu kejadian lalu. Tidak perlu di ingat. Aku bahagia dengan kehidupanku sekarang. Cody dan alex. Mereka pelengkap hidupku, alex bagaikan malaikat kecil di tengah2 keluarga kami :)

***

Skipp #5 tahun kemudian

"mom, kita mau kemana ?" anak kecil yang mengenakan jas itu terlihat menarik2 gaun ibunya yang tengah sibuk merapikan rambut
"kita mau ke pernikahan alli nak" ujar wanita bernama stella itu lalu menggendong tubuh mungil anaknya
"sayang cepat !" suara panggilan itu terdengar nyaring dari lantai bawah sana. Stella berlari kecil menuruni anak tangga. Tangannya masih menggendong alex, sedangkan dibawah sana cody terlihat menggendong charissa anak kedua mereka. Charissa masih berusia 10 bulan, alex kini sudah 5 tahun. Tuhan kembali menitipkan malaikat kecil lainnya di tengah2 keluarga kami. Ah hampir saja, hari ini alli akan menikah dengan austin. Pria pilihannya. Kami sudah perjalanan menuju tempat resepsi alli. Sepanjang jalan kami ber 4 saling tertawa dan bercanda. Kami benar2 saling menyayangi. Tidak ada lagi pembatas dalam hubungan kami. Semua berakhir dengan bahagia..

Thursday, March 28, 2013

YURI NATASCHA: A Fairy

YURI NATASCHA: A Fairy: Namanya Diana Rikasari. Pasti banyak yang udah tau. Di Twitter atau di Blog banyak yang sering manggil Die atau Kak Di, jadi ...

Part 39

Like my promise (Part 39)

Stella pov

Gelap, kenapa semua begitu gelap ? Dimana aku ? Apa ini sebuah kematian ?
"Stella.." suara itu terdengar hangat dan tidak asing
"dad ? Apa itu kau ?" aku mencoba mencari asal suara itu. Sebuah cahaya terang datang dari satu titik dan menyilaukan pandanganku. Seseorang terlihat berjalan didalam cahaya sana
"dad itu pasti kau !" aku berlari menghampiri cahaya itu. Namun ada satu pembatas yang menghalangiku untuk lebih mendekatinya
"ini bukan waktunya. Kembalilah pulang" suara lain datang dari arah yang sama.
"mom itu kau ?" panggilku yang hafal dengan suaranya
"ini kami ella. Mom dad dan lily. Kembalilah. Ikuti kata hatimu. Ini bukan waktumu nak" mom tersenyum menatap ke arahku. Ingin sekali aku memeluk mereka satu persatu
"ella, ingatlah sebuah kenangan yang begitu indah dalam hidupmu. Hal itu akan membawamu pulang"
"tidak ly. Aku ingin ikut bersama kalian. Bawa aku pergi bersama kalian" aku menatap ke arah lily. Lily hanya tersenyum
"tidak, ini bukan waktumu. Kami harus kembali. Ingat kenangan yang begitu indah dalam hatimu" lily kembali mengatakan hal yang sama. Perlahan cahaya itu semakin menjauh dan memudar
"mom dad ! Dimana kalian ? Lily kau dimana ? Kita tidak sedang bercanda ! Aku takut" seruku saat mendapati aku kembali sendiri di tempat yang gelap dan tak ada seorang pun
"Siapa pun sadarkan aku. Aku takut ! Aku ingin sadar" aku menjabak rambutku kesal. Jika ini bukan waktuku untuk mati. Kenapa aku tidak bisa sadar ?
''wake up stella wake up!" aku berkata pada diriku sendiri
"stella. Maafkan aku, maafkan aku. Ini pesan terakhirku. Jaga alex. Ku mohon. Jaga dia. Dan maaf kan semua kesalahanku" suara itu bergema. Aku tau itu suara kylie. Tapi dimana dia ?
"kylie ? Kau dimana ?"
"maaf stella maaf. Kumohon jaga alex untukku"
"aku memaafkanmu. Aku akan menjaga alex seperti anakku sendiri. Tapi kau dimana ?" aku terus berjalan mencari asal suara itu. Aku lelah, aku tidak menemukan siapa pun. Aku pasti sudah mati ! Tapi tidak. Cody dia masih mengharapkanku

"kenang sesuatu yang indah dalam hidupmu. Ingatlah" suara lily seakan akan berputar di otakku

"kenangan. Kenangan indah dalam hidupku. Cody melamarku diatas biang lala. Itu adalah kenangan terindah dalam hidupku" aku menutup mataku dan mengucapkan kata2 itu

"Cody cody cody help me please" batinku. Wajahnya mulai terlintas di otakku

Ada suara yang tak asing di ujung sana. Aku membuka mataku. Masih ditempat yang gelap dan sama. Ya tuhan apa aku tidak bisa kembali ?

Suara tangisan itu semakin kencang

''alex. Itu suara alex. Dia menangis. Sayang kau dimana ?" panggilku. Suara alex terdengar jelas di ujung sana. Aku berlari untuk mendekatinya. Sesuatu menarik tubuhku kasar, aku terjatuh. Entah jatuh dari mana. Tapi ini terasa seperti aku terjatuh dari ketinggian 100 meter

***

tanda pada alat itu mulai lurus. Seorang dokter dan 2 orang suster meletakan sebuah alat pemicu jantung pada dada seorang wanita yang tengah sekarat
"sekali lagi !" sang dokter menggesekan alat itu dan kembali meletakannya di atas dada wanita tersebut

"Peningkatan detak jantung. Pasien bernafas !" ujar sang suster tersenyum
"kita berhasil. Naikan oksigen'' perintah sang dokter. Dengan cepat suster tersebut melaksanakan perintah sang dokter

"cek semua alat2 yang terpasang. Saya harus menemui keluarga pasien"

***

Cody Pov

Aku menunggu dengan setia diluar sebuah ruangan bertuliskan emergency. Alex berada dalam dekapanku. Dia menangis seolah olah dia mengerti apa yang sedang terjadi pada aunt nya. Mom terus menangis, dad mencoba menenangkan. Begitu juga alli dan tom yang sama2 khwatir. Kami memang belum siap jika harus ditinggalkan oleh stella. Seorang dokter keluar dari dalam ruangan tersebut
"saudara suami dari pasien yg bernama stella ?"
"iya dok. Saya suami nya" ujarku
"ikut saya ke ruangan"
ujarnya lalu berjalan lebih dulu. Isakan mom semakin terasa. Alex masih menangis dalam gendonganku. Aku berjalan tepat dibelakang sang dokter
"saudara cody. Ini mujizat dari tuhan. Istri ada selamat. Dia sudah dipindahkan ke ruang pemulihan. Namun masih dengan perawatan yang serius" ujar sang dokter. Aku tersenyum, merasa bahagia bahwa stella belum pergi meninggalkanku. Aku tau dia wanita yang kuat
"trimakasi dok trimakasih" ujarku menjabat tangannya
"tapi sangat disayangkan" nada suara dokter tersebut berubah berat. Aku menautkan halisku heran
"tapi apa dok ?" tanyaku khawatir
"janin dalam perut istri ada tidak selamat. Istri anda mengalami keguguran" ujarnya.
Jauh, udara terasa menipis. Harapanku, harapan kami, bayi kami. Dia tidak bertahan, dia pergi. 













Bentar lagi LMP ini End jadi harap di baca dengan mengerti supaya cerita ini bisa didapati maknanya ;)

Part 38

Like My Promise (Part 38)

Stella pov

Kylie mengajakku membeli beberapa baju untuk alex. Kami masih diperjalanan menuju 'baby shop'. Aku merasa ada sesuatu yang lain dari kylie, matanya agak merah dan bau alkohol sangat terasa dari mulutnya
"kylie. Biar aku yang membawa mobil" ujarku pada kylie. Kylie menepikan mobilnya
"kau pasti mabuk" ujarku
"ya, beginilah aku sekarang" ujarnya lalu mengambil sebatang rokok dan menghisapnya
"kau harus menghentikan kebiasaan buruk ini. Kau harus ingat alex"
"aku mencoba stella. Tapi sulit"
aku menghebuskan nafas panjang. Ke adaan sunyi untuk beberapa saat
"aku merasa cody adalah ayah yg tepat untuk anakku" lanjutnya lagi. Aku terbelak kaget. Apa maksud ucapannya ? Cody ayah yang tepat untuk alex ?
"kylie. Kau bicara apa ?" tanyaku agak keras
"ku bilang cody adalah ayah yang tepat untuk alex. Aku bukan ibu yang baik untuk alex. Aku tidak bisa menjaganya" kylie mematikan rokonya dan kembali menyalakan mobil. Perasaan takut mulai menyerangku saat kylie menatap mataku sinis
"bagaimana kalo kita mati bersama ? Dengan begitu hanya akan ada alex dan cody bukan ?"

"Kylie, jangan bersikap gila !" aku mengecangkan pengamanku
"aku tidak gila, tapi kalian yang membuatkan bertindak gila" kylie mengijak pedal gas. Mobil pun berpacu cepat. Sial, dia memutar mobil ke arah jalan tol
"kylie stop, tepikan mobil ini sekarang !"
Kylie tertawa dan tidak menggubris perkataanku

FlashBack
"Tolong jangan keras kepala untuk hal ini. Katakan pada kylie jika alex menangis. Batalkan ajakannya"

"Stella, alex menangis. Mom bilang jika bayi menangis seperti ini itu tandanya akan ada bahaya"

Flasback off

Tangisan alex terasa begitu dekat di kupingku. Aku bisa merasakan dia membutuhkanku sekarang. Ucapan cody seakan akan kembali terngiang. Andai tadi aku mendengar ucapannya. Apa aku akan mati dengan cara seperti ini ? Tidak, aku tidak mau. Aku harus menjaga anak yang ada diperutku

"Kylie kumohon. Hentikan mobil ini. Aku tidak ingin mati konyol. Aku tengah mengandung"
"Lalu apa urusanku ? Saat aku mengandung alex kau merebut cody kan dari aku !"
"kylie tapi alex memang bukan anak cody. Kau sendiri sudah mengakui itu kan ?"
"persetan dengan semua ucapanmu. Kita akan mati bersama sama dan alex akan bahagia bersama cody"

aku semakin takut, tanganku mencari cari I-phone yang ada didalam tas
"ah aku meninggalkannya diatas meja. Sayang baik2 didalam sana. Mom benar2 mencintaimu" batinku dalam hati sembari mengelus perutku

"Stella lihat ! Didepan ada tangki bensin. Jika aku menabrakan mobil ini kesana. Kita akan mati terbakar seperti BOM ! Hhahaha" kylie tertawa puas dan semakin mengijak pedal gas

"Kylie, aku bisa menjadi ibu untuk alex. Aku bisa mengganti posisimu. Tapi tidak seperti ini" aku mulai menangis ketakukan. Bayangan wajah alex dan cody terlewat difikiranku. Mereka pasti mengkhawatirkan keberadaanku sekarang

"tidak ada yang bisa mengganti posisiku selain cody"

Mobil berjarak 4 meter dibelakang tangki bensin itu, aku mencoba mencari akal agar aku tetap hidup. Keluar ! Ya aku harus keluar dari dalam mobil ini. Dengan cepat aku membuka sabuk pengaman. Dan menekan tombol untuk membuka pintu secara otomatis. Pintu terbuka

"stella, mau lari kemana kau !"
"maaf kylie aku tidak bisa jika harus mati seperti ini"
"tidak. Kau harus mati bersamaku" kylie mencoba menarik bajuku namun tubuhnya tertahan sabuk pengaman

"Mom dad lily. Jika aku mati. Jemput aku bersama kalian" batinku, aku keluar dari dalam mobil. Tubuhku terguling kasar diatas aspal. Berputar cepat, aku bisa merasakan kepala dan badanku tergores aspal. Hitam, semua mendadak hitam, aku merasa hidupku sudah berhenti

"Buuum"

Suara itu terasa nyaring sebelum akhirnya pengelihatanku menghilang

***

Friday, March 22, 2013

Part 37 (2)

Like My Promise (Part 37)

Stella pov

"Istirahatlah mom, biar aku yang menjaga alex" ujarku mengambil alex dari gendongan mom angie "trimakasih stella, mom kewalahan melihat kylie. Dia terlalu mengabaikan anaknya" ujar angie lalu meneguk segelas orange juice yang sejak tadi dibiarkannya. Aku hanya tersenyum simpul "alex, biar aunt yang menjagamu" ujarku mencium puncak kepalanya. Alex yang masih berusia 2 bulan hanya menatapku dan tersenyum kecil. Aku membawa alex masuk kedalam kamar. "wohoo lihat siapa yang datang" ujarku pada cody yang tengah rebahan di atas kasur "istriku" ujarnya tersenyum kecil "bersama alex. Lihat, dia selalu tersenyum padaku"
"kemari. Biar uncle menggendong mu" ujar cody lalu mengulurkan kedua tangannya. Alex kini berada di dalam pelukan cody "nanti jika anak uncle lahir, kau temani dia main ya" cody meletakan tubuh mungil alex diatas kasur dan mengajaknya bermain disana. Aku ikut tidur disamping cody. Ditengah2 kami alex tersenyum lepas saat cody dan aku melemparkan lelucan padanya. Maksudku seperti memainkan boneka superman yang pura2 diterbangkan oleh cody "aku benar2 tidak sabar menunggu bayi kita lahir" cody mengelus perutku lembut "7 bulan lagi" ujarku tersenyum padanyaa "dreeet dreeet" I-phone ku bergetar. Aku meraihnya dan menyentuh tombol hijau. 1 panggilan dari kylie "ya kylie ada apa ?"tanyaku "aku dirumah bersama alex. Ada apa?"
"Hari ini ? Tentu saja aku bisa. Baiklah, jemput aku 15 menit lagi. Bye" aku mematikan telpon dan kembali meletakan nya diatas meja "kylie menelpon ?" tanya cody dengan raut wajah sinis nya "iya. Dia mengajakku membeli beberapa pakaian alex" aku menjelaskan dan menggendong alex "aunt harus pergi untuk membeli beberapa pakaianmu. Baik2 bersama uncle di rumah" aku mengecup pipi cabinya. Namun tiba2 wajah alex berubah seperti hendak menangis. Mata coklat keabu abuannya mulai berkaca kaca "uuh sweety jangan menangis" ujarku menimang nimang tubuhnya "ada apa ?" tanya cody
"entahlah, alex seperti menangis saat aku bilang aku harus pergi"
"eaaaaaa" alex mengeluarkan suara tangisannya keras "cody tolong ambilkan susunya" ujarku memerintah pada cody "no sayang aunt tidak pergi aunt disini" ujarku mengelus rambut coklat nya "ini" cody datang dan membawa sebotol susu ditangannya. Aku mengambilnya dan memberikan susu hangat itu pada alex "dia tidak mau minum susu" ujarku panik, alex semakin menangis keras "sini biar aku yang menggendongnya" ujar cody. Aku memberikan alex pada cody. Tapi tetap saja alex tidak berhenti menangis "keith kau kenapa ?"tanya cody memanggil alex dengan nama tengahnya "lebih baik kau batalkan ajakan kylie. Katakan padanya alex menangis"
"tapi hun, aku sudah bilang bisa. Aku tidak enak jika harus membatalkannya"
"tapi aku punya perasaan tidak enak. Aku takut terjadi sesuatu padamu"
aku memutar kedua bola mataku jengah "biar aku menidurkan alex dulu" ujarku kembali mengambil alex dari gendongan cody "mom bilang jika bayi menangis seperti ini. Itu tandanya ada sesuatu yang akan tertadi"
"cody, kau percaya mitos ? Semua akan baik2 saja" ujarku lalu keluar dari dalam kamar. Aku benci jika nantinya aku keras kepala, aku tidak ingin pertengkaran kecil seperti ini membuat hubungan kami renggang "go sleep alex" ujarku menggendong alex dan memberikannya susu. Alex terlihat tenang, dia meminum susu yang aku berikan. Mata coklat keabu abuannya mulai terlihat menutup "i love you" ujarku mengecup pipinya. "alex hanya lelah dan ingin tidur" aku meletakan tubuh mungilnya di atas ranjang tidurnya "jangan keras kepala untuk kali ini" 
"keras kepala apa cody ? Aku hanya akan pergi belanja sebentar dan pulang. Hanya itu" ujarku kesal "kau bisa pergi lain kali. Tidak untuk hari ini. Dengarkan aku. Aku masih tidak yakin dengan ucapan atau.."
"cody sudahlah. Semua akan baik2 saja. Aku akan pulang pukul 3. Hanya 1 jam. Don't worries" ujarku mengecup pipinya. "aku pamit. Aku rasa mobil kylie sudah datang" aku bergegas pergi dan meninggalkan cody yang masih mematung

Part 37 (1)

Like My Promise (Part 37)

PERHATIAN, YANG GA MAU BACA GA USAH DIBACA YAAA :)

Stella pov

"Jadi kau datang hanya untuk itu sajaa ?"
"Tentu saja tidak, aku membawa ini.." aku mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tasku "ini untukmu" ujarku memberikan kotak tersebut pada cody. Cody menatap kotak itu heran "ini ?" tanya nya dengan nada suara kecut "iya" ujarku mengangguk mantap. Cody menerima nya dan membuka kotak tersebut. Dia menautkan halisnya saat melihat isi kotak tersebut. Beberapa detik kemudian raut wajahnya terlihat bahagia "ini hadiah terindah yang pernah aku miliki" cody memelukku dan mengecup keningku hangat, membelai rambut coklat maduku lembut. Aku tersenyum menata mata indahnya, belum pernah aku melihat cody tersenyum selepas ini "kita harus ke dokter untuk menanyakan kehamilanmu. Test pack saja aku rasa belum akurat" cody memegang tanganku lalu membawaku masuk ke ruangan lain

***

"Jadi, apa yang kau rasakan ?" tanya dokter berperawakan gendut itu "mual di pagi hari" jawabku seadanya "oke sekarang buka mulutmu" perintah sang dokter. Aku membuka mulutku berbentuk huruf "A"
"oke nona stella, aku rasa cukup" ujarnya lalu kembali duduk di kursi kerjanya "selama tuan cody. Istri anda benar2 hamil" dokter tersebut mengulurkan tangannya memberikan ucapan selamat "kau serius dok ? Ya tuhan ini benar2 nyata" cody menerima uluran sang dokter dan menjabat tangannya "tapi harus diperhatikan tuan cody. Istri anda memiliki rahim yang tidak kuat. Jadi, janin dalam perutnya benar2 lemah. Harus sangat diperhatikan" ujar dokter tersebut menjelaskan. Cody menatap sayup ke arahku dan menggenggam tanganku kuat, seperti sebuah ucapan yang mengatakan -tenanglah, semua akan baik2 saja- 
"baik dok, saya akan menjaga kandungan istri saya dengan baik" sang dokter tersenyum lalu tangannya mulai sibuk menulis beberapa catatan. "ini resep obat agar janin istrimu lebih kuat"
"trimakasih dok, saya akan menebusnya" cody menerima resep tersebut, kami pun keluar dari dalam ruangan. "dia lemah" ujarku mengelus dan berbicara pada perutku sendiri. Cody mengambil posisi bertekuk, dia kini bertekuk tepat didepan perutku "my baby. Dad dan mom pasti akan menjagamu, baik2 didalam sana. Love you" cody berbicara pada perutku seolah2 ia benar2 tengah bicara pada bayi kami "cup" cody mengecup perutku dan mengelusnya lembut "sekarang dia lebih kuat" ujar cody lalu merangkul pundakku "seperti ayahnya bukan?" ujarku terkekeh

#Skipp #Author pov

Wanita berambut coklat kemerahan itu terlihat tengah menjemur bayinya dibawah sinar matahari pagi. Dua bulan sudah berlalu semenjak bayi kylie lahir, semua terasa berubah begitu cepat. Mom angie dan dad brad kini sudah merestui hubungan stella dan cody, usia kandungan stella pun kini menginjak 2 bulan. Rasanya semua begitu indah. Kami sekarang kembali pulang ke LA, rumah kylie hanya berbeda beberapa blok dari rumah mom angie di LA. Kylie sengaja memilih rumah yang berdekatan, karna terkadang dia menitipkan alex anaknya pada mom sebelum dia berangkat kerja di kantor dad brad. Oh yaa hampir saja. Anak kylie bernama Alex keith gordon, itu nama pemberian stella dan cody. Alex keith dari stella dan gordon dari cody. Secara iklas kami sekeluarga memang sudah memaafkan kylie. Hanya saja terkadang dia selalu mabuk mabukan untuk menghilangkan stress. Itu sebabnya alex tidak diberikan asi. Kami mencoba melarang, tapi entahlah jarang sekali kylie menggubris ucapan kami. Hanya alex yang mengingatkan kami untuk merangkul ibunya. Sebenarnya mom angie sendiri sudah jengkel. Tapi dia iba pada alex, alex tidak memiliki ayah. Itulah sebabnya kami mau menerima kylie. Setidaknya tidak mengancuhkan dia begitu saja. "good morning" cody menyapa stella dengan senyum merekahnya. Oh tidak, bukan. Bukan menyapa stella, melainkan menyapa malaikat kecil mereka yang masih bersembunyi di balik perut buncit ibunya. "stop. Jangan mendekat" stella memundurkan posisinya "oke2 aku tau. Mandi, bertukar pakaian, menggunakan farpum bayi dan menyanyikan lagu twinkle2 litte star. Great !" cody memanyunkan bibirnya lalu masuk kedalam kamar mandi. Well, mungkin aneh. Tapi itulah stella, dia tengah mengidam. Dan mengidamnya benar2 aneh. Cody tidak boleh memeluk atau menciumnya di pagi dan di malam hari sebelum mandi, bertukar pakaian, menggunakan parfum bayi dan menyanyikan lagu. Dan ini sudah berlangsung sekitar 2 bulan -_-

Part 36

Like My Promise (part 36)

Skipp #Author pov

Wanita paruh baya itu terlihat marah melewati lorong rumah sakit, tangannya memegang beberapa kertas, dibelakang langkahnya tampak seorang pria mencoba menenangkan wanita paruh baya itu "Wanita penipu ! Tega sekali kau melakukan ini pada keluarga ku. Anakmu bukan benih dari anakku !" wanita itu melempar kertas yang dipenggangnya tepat didepan wajah seorang wanita yang tengah menggendong bayinya. Kylie. "angie, jaga sikapmu ini rumah sakit" pria berkacamata yang berdiri disampingnya mencoba menenangkan "mom ada apa ini ?" seorang pria bernama cody nampak datang dengan sekantung plastik di tangannya "cody ?kau kemari sayang ?" wanita yang dipanggil mom olehnya terlihat kaget "i..iya, aku disini. Ada apa ?" tanya cody heran yang melihat lembaran kertas berjatuhan di lantai. Kylie, hanya tertunduk dan menangis dia terus menciumi wajah mungil bayi nya "mom kenapa kylie menangis ?" cody menghampir angie ibunya dengan tatapan heran "dia penipu sayang. Dia mencoba memanfaatkanmu"
"aku sudah tau itu mom" jawabnya singkat "alli, mom pinjam hp mu" alli dengan cepat menyerahkan I-phone nya pada sang ibu "mom, kau mau menelpon siapa ?" tanya alli heran yang melihat ibunya menekan tombol2 itu cepat "polisi. Mau tidak mau kylie harus di penjara" ujar angie enteng "no aunt, jangan jebloskan aku ke penjara. Aku ingin mengurus anakmu, berikan aku kesempatan kedua" kylie menangis, dia meletakan bayinya kembali ke dalam tabung inkubator. Kylie merangkak menghampiri angie, dia masih menahan sakit selepas oprasi sesar "aunt kumohon. Jangan masukan aku ke penjara. Aku tau ini salahku tapi maafkan aku. Kumohon" kylie berlutut di hadapan angie, matanya masih berderai airmata "Nyonya angie" suara itu terdengar lantang dari ambang pintu, membuat orang2 yang ada didalam ruangan ini menolehkan kepalanya "stella ?" cody menautkan halisnya heran, dia menghampiri istri nya yang masih berdiri di ambang pintu "kau menyusulku ?" cody berbisik pelan "iya, aku sangat merindukanmu" ujar stella dengan tatapan puppy nyaa "tapi tidak itu saja" lanjutnya lagi. "kylie, berdirilah" ujar stella menghampiri kylie "ella, maafkan aku. Ini salahku, aku menghancurkan hubungan kalian"
"tidak kylie. Ini bukan salahmu. Aku tau apa maksudmu. Berdirilah" stella menyilangkan tangannya untuk membantu kylie berdiri "nyonya angie. Aku tau kau marah pada kylie. Tapi aku mohon jangan seperti ini. Kylie baru saja melahirkan, dia baru beberapa hari merasakan indahnya menjadi seorang ibu. Dia sama seperti, seorang wanita yang memiliki anak. Coba nyonya bayangkan jika nyonya di posisi kylie sekarang. Kylie hanya ingin yang terbaik untuk putranya. Seperti nyonya pada putra nyonya cody" stella memberanikan diri untuk menghadapi wanita yang menyandang sebutan 'mom' itu. Angie terdiam dan menatap stella "kita bisa bicarakan masalah ini secara kekeluargaan" lanjut stella lagi. Angie diam tak bergeming, dia memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan dan meninggalkan kami. Brad dan alli mengejarnya. "ini pasti bayimu. Dia mirip denganmu ky" stella tersenyum dan menatap bayi yang ada didalam tabung inkubator itu "stella, kenapa kau melakukan ini ? Aku merasa sangat bersalah" kylie menghampiri stella yang berdiri disamping ranjang anaknya "lupakanlah. Aku sudah memaafkan mu kylie. Aku tau bagaimana perasaanmu. Kau sudah memberi nama pada bayi ini ?" stella mencoba mengganti topik pembicaraan "aku belum memberikan nya nama"
"hmm, aku rasa aku memiliki nama untuknya. Tapi biar aku pikirkan dulu. Tak apa?"
"tentu saja, terimakasih stella. Trimakasih" kylie memegang tangan stella tanda mereka sudah berbaikan "stella, bisa kita bicara ?" cody yang sejak tadi diam mulai angkat bicara pada istrinya "tentu saja. Kylie, aku keluar sebentar" kylie tersenyum meng iyakan ucapan stella. Cody menarik tangan stella dan membawa nya ke satu ruangan yang jauh dari lalu lalang manusia "aku benar2 merindukanmu" cody memeluk stella dan mencium bibirnya kasar "cody, kau bisa melukai bibirku" gerutu stella kesal "maaf, tapi aku benar2 merindukanmu. Jadi apa tujuanmu ? Hanya untuk menemui kylie ?" tanya cody
"tentu saja tidak. Tapi untuk ini.."

Wednesday, March 20, 2013

Part 35

Like My Promise (Part 35)

Cody Pov

Aku baru saja sampai di australia beberapa menit lalu, aku terpaksa meninggalkan stella di LA karna kylie sedang melahirkan. Jujur aku malas, aku sebenarnya tidak ingin jauh dari stella walau hanya sedikit. Bagiku setiap moment yang terlewati bersamanya adalah hal berharga. Tapi keadaan tidak memihak padaku,mau tidak mau kylie adalah belenggu dalam hubunganku dan stella. Alli bilang anak kylie sudah lahir dan berjenis kelamin pria "Santa carlos hospital" ujarku pada supir taksi yang mengenakan topi dikepalanya. Dia mengangguk dan segera mengijak pedal gas, mobil taksi ini pun berjalan membelah kota aussie di bawah guyuran hujan

#Skipp

"Cody !" seseorang memanggilku saat aku baru saja tiba dirumah sakit, aku mencari asal suara itu. Seorang wanita berambut pirang terlihat melambaikan tangannya diambang pintu, aku tersenyum lalu menghampirinya "bagaimana keadaanmu?" tanya wanita itu memelukku
"seperti yang kau lihat. Aku baik2 saja alli'' ujarku pada adik perempuanku yang bernama alli "dimana stella ? Apa dia tidak ikut ?"
"tidak, ku kira dia mengabarimu" jawabku
"ah aku lupa, padahal tadi dia mengirimku pesan. Ayo masuk" ajak nya. Aku memasuki ruang bersalin di kelas 1 suasa nya terlihat sepi, tapi ada beberapa rangkaian bunga diatas meja "kylie sedang menyusui. Jadi tirainya ditutup" ujar alli menjelaskan "mana mom dan dad ?"tanyaku menyimpang dari ucapannya "mengantar sampel darah anak kylie ke lab"
mendengar ucapan alli aku tersontak, mereka.. Maksudku orang tuaku mengantar sampel darah anak kylie ke lab. Itu berarti test dna akan berlangsung cepat "kau pasti kaget" ujar alli menebak "tentu saja, bukannya mom dan dad.." 
"bersyukurlah karna kau memiliki adik sepertiku. Bulan2 ini aku selalu memberikan pengertian pada mereka. Maksudku, aku kesal dengan sifat dad yang selalu memikirkan reputasi pekerjaan. Dia terlalu fokus pada pekerjaan, sampai reputasi anak nya sendiri terabaikan. Aku kau dan tom merasakan imbasnya, ini yang membuatku berani membantah. Coba kau pikirkan, andai dad dekat dengan kita. Mungkin dad tidak akan termakan oleh ucapan 'bodoh' yang kylie lemparkan" ujar alli menjelaskan. Aku tertegun, usianya terbilang muda, tapi pemikirannya lebih dewasa dibandingkan aku "ucapanmu benar all, trimakasih kau benar2 adik terhebat yang pernah aku temui" ujarku lalu memeluk tubuhnya "cody" kylie memanggilku dari balik tirai, aku menatapnya sinis "kemarilah, ada yang ingin aku bicarakan" lanjutnya, aku berdiri dan berjalan menghampirinya "alli tolong keluar sebentar" kylie menatap alli, alli hanya mengangguk lalu pergi keluar kamar. Ku lihat tubuh kylie sedikit mengurus, selang infus itu pun masih tertancap ditangannya, disamping kasurnya terdapat sebuah tabung bayi "bayiku lahir sebelum waktunya, dia masuk ruang inkubator" kylie menjelaskan, tatapan matanya terlihat kosong tapi ada setetes air mata yang jatuh disudut matanya "kau sudah memberinya nama ?" tanyaku mendekati tabung itu. Tabung itu di lindungi oleh kaca, jadi aku dapat melihat bayinya. Ada beberapa selang disekitar tubuhnya. Ku akui selang2 itu lebih besar dari jari2 mungilnya "belum, aku belum memberikannya nama. Air ketubanku pecah dan terminum olehnya. Dokter sedang berusaha mengeluarkan air itu. Aku benar2 takut bayiku tidak selamat" kylie kembali meneteskan air matanya, aku terpaku menatap bayi itu. Dia terlihat tidak nyaman didalam sana, tangan mungil nya bergerak2 kecil, bibir mungilnya pun sesekali tersenyum. Aku teringat stella, aku membayangkan disaat nanti kami memiliki bayi. Seperti ini kah rasanya ? Bayi ini memang bukan anakku, tapi mungkin ini naluri ke ayahan. Seperti stella saat melihat claris hamil, dia tiba2 memintaku untuk melakukan hubungan itu dan membuat kehidupan didalam perutnya. Mungkin itu juga naluri ke ibuan yang di miliki oleh stella "Tuhan, apa pun itu. Aku berharap kau memberikan malaikat kecil dalam keluargaku" batinku "bayiku tidak mirip denganmu sama sekali. Dia.. Dia mirip dengan mark ayahnya" kylie mengucapkan kata2 itu tertunduk "mark ?" ujarku kaget "oke, aku minta maaf. Ini anak mark, mark yang melakukan ini. Dan dia meninggalkanku, aku butuh pertanggung jawaban untuknya. Tapi, aku tidak pernah menemukan pria bajingan itu. Ini hanya akal2an ku agar bayiku tidak menanggung malu nantinya. Aku benar2 minta maaf, aku merusak hubungan mu dengan ella. Sekarang aku benar2 tidak sanggup menghadapi semua ini. Mungkin jeruji besi akan tersenyum padaku sebentar lagi"

Monday, March 18, 2013

Part 34

Like My Promise (Part 34)

Skipp #Stella pov

Pagi ini aku tengah menyiapkan beberapa sarapan untuk cody. Di ruang tengah sana cody terlihat tengah berkutat dengan koran paginya "hun, sarapanmu" panggilku sembari meletakan piring berisi nasi goreng diatas meja makan "kelihatannya enak" cody mencium aroma nasi goreng mentega itu lalu mengambil sendok untuk mencicipinya "kau tidak sarapan ?" tanya cody sembari memasukan sesendok nasi kemulutnya "entahlah, aku kurang nafsu makan" keluhku yang memang belakangan ini nafsu makan ku berkurang "biar aku suapi ya. Nanti kau sakit jika tidak makan" cody mengambil se sendok nasi lalu menodongkannya di depan mulutku, aku tersenyum lalu menerima suapannya "uueeek" aku merasa perutku tidak menerima makanan itu "ueeek" aku benar2 ingin memuntahkannya sekarang, aku berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan makanan itu "sayang kau kenapa ?" cody terlihat panik sembari mengelus pundakku "makanannya tidak. Ueeek" aku kembali memuntahkannya "kita ke dokter ya" ajaknya
"tidak, kau bohong ya?" ujarku menatap mata cody tajam "bohong ? Bohong apa ?"
"kau bilang nasi gorengku enak. Tapi aku saja sampai memuntahkannya. Ueeek"
"sayang, nasi gorengmu memang enak. Aku serius" ujar nya sembari memijat tengkuk leherku "kau kenapa ? Apa sakit ?"
"no, aku hanya mual dan kepalaku sakit. Mungkin masuk angin"
"kita periksa ke dokter ya. Aku takut kau kenapa napa"
"tidak usah hun, sebentar lagi juga baikan" ujarku mengelus pipi nya lembut "kau yakin ?"
"sangat yakin" ujarku, cody memegang wajahku dan mendekatkan wajahnya, perlahan hidung kami mulai bersentuhan, hembusan hangat nafas kami mulai beradu. Semakin dekat bibirnya mulai meraih bibir bawahku, dan "dreeet,dreeet" I-phone cody bergetar, menghentikan aktivatas kami "ugh mengganggu saja" gerutnya kesal "hun" ujarnya mengelus pipinya "ya alli ada apa ?" cody mengangkat telponya dari alli "apaa ? Bukannya bulan depan ?" wajah cody terlihat panik, aku menautkan halisku heran "aku tidak bisa kesana. Stella sedang sakit" sambungnya lagi "alli, aku mengerti. Tapi kau juga harus mengerti keadaan kami. Aku akan menghubungi lagi nanti" ujarnya lalu mematikan telpon "ada apa ?" tanyaku yang melihat wajah cody sedikit bingung "kylie" ujarnya singkat "ada apa dengannya ?"
"dia melahirkan"
"bukannya bulan depan ?" tanyaku heran
"dia jatuh dikamar mandi, air ketubannya sudah pecah" ujar cody menjelaskan "ya tuhan. Lalu bagaimana keadannya ?"
"bukan urusan kita" jawab cody sinis "sayang, kau tidak boleh seperti itu. Bagaimana pun dia tengah mengandung"
"tapi dia bukan mengandung anakku. Lupakanlah" ujarnya kasar, aku memeluk tubuhnya dan menyandarkan kepalaku didada bidangnya "coba kau pikirkan jika kylie adalah aku"
"kenapa kau menyamakan dirimu denganya ? Aku tidak suka. Kau adalah kau. Kylie adalah kylie" ujarnya memegang pundakku
"tapi aku dengannya sama2 wanita. Aku tau alli pasti menyuruhmu pulang ke aussie. Pergilah, kylie membutuhkanmu" ujarku mengelus dada bidangnya "no, aku tidak akan menemuinya. Aku tidak mungkin meninggalkan mu disaat kau sedang sakit" cody terlihat kesal, aku dapat menangkap tatapan tajamnya, dia berjalan menuju kamar tanpa kembali menyentuh sarapannya. Aku mengikuti langkahnya dari belakang "cody" ujarku duduk dipangkuannya. Cody tidak melihat wajahku, dia hanya menatap keluar jendela. "hey, aku senang saat kau cemberut seperti ini" ujarku mengecup pipinya "aku kesal" ujarnya singkat "lalu?"
"aku kesal karna kau menyamai dirimu dengan kylie. Kau stella, wanita yang aku cintai. Dan kau akan tetap menjadi stella bukan orang lain" kini matanya mulai menatap manik biruku, tapi masih dengan tatapan tajamnya "aku tau, tapi apa salah jika kau menjenguk kylie ?"tanyaku. Cody terdiam sepertinya pertanyaanku mulai menyudutkan dirinya "tapi kau sedang sakit. Aku takut terjadi sesuatu"
"aku baik2 saja. Lihat, aku masih bisa menciummu" ujarku lalu mengecup bibirnya singkat "jadi kau mau kan pergi ke aussie untuk melihat kylie ?"tanyaku lagi
"entahlah, aku takut meninggalkanmu. Kau ikut ya ?" ajaknya
"tidak, aku belum bisa pulang ke aussie. Aku benar2 akaan.."
"iya aku tau. Kenangan itu kan. Maaf, aku tidak bermaksud" ujarnya menyesal
"aku akan ke aussie untuk melihat kylie"
"benarkah ? Aww, itu yang aku suka"
"tapi dengan satu syarat"
"oke. What ?"
"aku ingin mengulangi nya nanti malam"
"sayang, kita hampir setiap hari melakukannya" ujarku mengeluh. Aku benar2 kewalahan menyikapi sifat nafsunya "oke aku tau. Tapi kau itu terlalu menggoda" ujarnya terkekeh "bagaimana dengan ini ?"tanyaku langsung mencium bibirnya liar, merasa seperti itu adalah sarapan favoritku..

Part 33 (2)

Like My Promise (Part 33)

Author pov

Matahari mulai naik dan menampakan cahaya, menggantikan tugas sang bulan untuk menyinari bumi. Sepasang anak manusia itu masih tertidur pulas diatas ranjang sebelum akhirnya suara alarm itu terpaksa membangunkannya

Stella pov

"KRINGGG" Bunyi alarm itu membuatku terpaksa membuka mata, sinar terang dari arah jendela menyentuh hangat kamar kami, ku lihat cody masih tertidur pulas dengan memeluk tubuhku, aku benar2 tidak percaya dengan kejadian tadi malam, hal itu terjadi sangat cepat. Ku lihat tubuhku tidak berbalut kain sama sekali, hanya selimut yang menutupinya, aku membuka selimutku, aku benar2 kaget saat melihat ada bercak darah diatas sprei "hoaam" cody menggeliat lalu mengucak kedua matanya "good morning my wife" ujarnya lalu mencium pipiku "good morning too my husband"
"tadi malam itu, kau benar2" cody membuka suara dan hendak menceritakan kejadian tadi malam, dengan cepat aku menutup mulutnya "jangan diceritakan ok"
"iya iya, aku hanya ingin bilang tadi malam itu kau benar2 hebat haha" ujar cody lalu menjulurkan lidahnya "aku tidak percaya, ternyata kau masih perawan sebelum aku mendapatkannya hehe" lanjutnya lagi "tentu saja, aku lahir dari keluarga yang baik. Aku selalu jaga diri" 
"thanks" cody mengecup bibirku cepat, lalu bangun dan menyibakan selimutnya "aaaaaa" aku berteriak saat melihat tubuhnya yang tanpa busana "ada apa ?"
"tutup badanmu"
"kenapa ?"
"kau tidak malu ? Aku wanita !"
"tapi, kau semalam melihat nya dan mencobanya. Kita sudah saling lihat"
"itu..itu tadi malam, sekarang kan... Aaaa cody ayolah, aku tidak akan membuka mataku sampai kau menutupi tubuhmu"
"haha oke2 aku sudah pakai handuk" ujar cody tertawa lebar, aku membuka sedikit mataku, uh untunglah dia sudah menutupi nya dengan handuk
"aku mandi dulu. Susul ya" ujarnya seraya berjalan menuju kamar mandi, aku memutar bola mataku kesal "dreeet dreeet" I-phone milik cody bergetar, aku meraihnya. Satu panggilan dari "Alli"
"halo" sapaku
"halo, ini pasti stella"
"iya, ada apa alli ?"
"bagaimana harimu ?"
"menyenangkan. Kau sendiri" tanyaku
"tidak, aku kewalahan mengurus kylie. Perutnya semakin buncit. Dia sudah 8 bulan 2 minggu. 2, 3 minggu lagi dia akan melahirkan" jelas alli
"oh begitu, kuharap proser persalinannya lancar. Bagaimana kabar mom dan dan ?"tanyaku
"mereka baik2 saja, mereka mencari cody. Bagaimana denganmu ? Apa ada tanda2 kau sedang mengandung ?" tanya alli, aku tersenyum tipis
"entahlah, doakan saja" jawabku "oh iya all, apa mom dan dad sudah mengetahui pernikahanku dan cody?"
"hmm, mereka..mereka belum mengetahui ini. Hanya aku sendiri yang baru tau"
"alli, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk merahasiakan ini. Tapi, kau tau sendiri kan selama kylie mengandung selama itu juga hubunganku dan cody belum aman"
"aku tau stella. Percayalah bahwa semua nya akan baik2 saja. Sampaikan salamku pada cody. Jaga dia yaa" ujarnya
"iya, aku pasti akan menjaga cody. Jaga dirimu juga yaa. Bye" ujarku lalu mengakhiri perbincangan. Aku lalu berdiri dan hendak menghambil handuk "aww" erangku saat merasa sakit disekitar selangkangan "ella ? Kau kenapa ?" cody terlihat panik saat melihat langkahku yang hampir jatuh "aku sulit berjalan" ujarku "bisa bantu aku berjalan ke kamar mandi ?" cody tersenyum lalu menyilangkan tanganku dibahunya "kau tidak pernah melakukan hubungan itu sebelumnya ya ?" tanya cody bodoh "tentu saja. Aku hanya..hanya melakukan itu denganmu" ujarku tanpa menatap wajahnya karna malu "ternyata sakit ya" keluhku "itu first namanya. Nanti juga tidak. Kau pasti akan ketagihan, mungkin nanti malam kau ingin mencobanya lagi" ujar cody dengan tatapan nakalnya, aku mencubit lengannya "aww" erangnya "kubilang jangan bicarakan kejadian tadi malam" gerutuku kesal "oke maaf. Mandilah, kau terlihat berantakan" ujarnya. Aku lalu menutup pintu kamar mandi "tapi tadi malam kau sangat liar !" ujar lagi dari balik pintu "SIMPSOON !"

Random

hey Guys...

gimana dengan LMP yang udah gue post? . kata temen gue kalian tuh suka End nya gimna menyedihkan  atau menyenangkan? bagi gue tuh cocoknya yang menyenangkan :). Gue bangga banget sama temen gue, dia tuh bisa bikin shortstory *salutttttttttt.
gue udah lama yah gak ngepost, dikarnakan gue lebih sering on gadget jadi pada lupa ama LMP yang akn dipost *maaf.

OK GUYS kalian udah tau gak pacar gue ? Pasti loh udah bacakan post gue yang waktu valentine itu ? yappp Bener banget "Timothy Manopo" namanya. gak nyangka aja yah, gue bisa jadian ama dia + gue salut ama app yang gue dapet dari codysimpson.com ternyata setelah gue kirim kartunya dan langsung aja dia mulai deket ama gue :D *yawnnn. ternyata-ternyata-ternyata apa yang gue lakuin tuh gak sia-sia ;)

To be Continued

Part 33 (1)

Like My Promise (Part33)

Author pov

Gadis bermanik biru itu duduk di bibir kasur menunggu cody datang. Jam mulai menunjukan pukul 10. Sesekali dia membuka pintu untuk mengintip ke arah luar "belum juga" ujarnya lalu kembali duduk di kursi rias "ceklek" knop pintu itu berputar. Terlihat cody masuk dengan wajah letihnya. Stella terlihat salah tingkah, ia pura2 menyisir rambutnya "kau belum tidur ?"tanya cody sembari berjalan ke arah kamar mandi "eng belum" ujar stella kikuk

Stella pov

Aku duduk dikursi rias sebelum akhirnya cody datang. Wajahnya terlihat letih, dia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajah "cody" aku memanggilnya dengan suara pelan "hmm" cody berdeham, mungkin terlihat seperti -iya-. Aku menghampirinya lalu memeluk punggung nya hangat dari belakang "kau marah ?" tanyaku, cody berbalik sembari mengambil handuk "ma.." ucapannya terhenti saat matanya menangkap mataku "kau berdandan dimalam hari seperti ini ?" cody meletakan tangan kekarnya di atas wajahku, aku tersenyum kecil "iya, aku siap" ujarku memeluk pinggannya "sejak kapan gadisku memakai make up setebal ini ?"
"sejak malam ini, aku ingin terlihat cantik di malam pertama kita"
"ya tuhan sayang, kau tidak perlu melakukan ini. Kau akan lebih cantik tanpa make up"
"tapi aku melakukan ini untuk malam pertama kita" cody tersenyum simpul lalu mengambil tissue dan membasahinya "kau tidak memerlukan make up2 itu ya" ujarnya sembari mengelapkan tissue basah itu ke wajahku "ku bilang aku tidak akan memaksamu. Jika kau memang belum siap, itu bukan masalah" ujar cody, aku terdiam dan terus menatap mata aqua miliknya "aku ingin melakukannya karna cinta. Bukan karna kau kasihan padaku"
"sayang, aku serius. Aku benar2 ingin melakukan hubungan itu malam ini. Aku.." stella menghentikan ucapannya dan menggenggam tangan cody "aku.. Aku ingin ada kehidupan disini" aku menarik tangan cody dan meletakannya di perutku "disini. Didalam perutku" ujarku. Cody terdiam, matanya menatap wajahku lembut. Perlahan aku mulai berani untuk memulai, aku mengelus perut sixpack nya, menyentuh wajahnya dan mengecup bibirnya lembut, menggulum gundukan pink itu. Cody terdiam sampai akhirnya dia mengikuti ke inginanku. Aku tau cody meng inginkan ini, aku melakukannya karna cinta. Cody mulai menarik tubuhku untuk masuk kedalam tubuh kekarnya, kini cody terlihat lebih dominan, dia mulai mengecup leherku, meninggalkan jejak merah diatas nya. "malam ini ?" cody menggendong tubuhku "why not ?" jawabku seadanya, cody membaringkan tubuhku diatas kasur, deruan nafasnya terasa berpacu lebih cepat, hangat mengelus wajahku, tangan nya mulai membuka kancing baju ku perlahan, menyentuh sesuatu didalamnya. Aku mencengkram piyama tidurnya. Membuat beberapa kancing itu terbuka, tubuh sixpack nya mulai terlihat, aku menyentuh dada bidang nya. Cody semakin liar, tangannya mulai bermain di sekitar tubuhku, memberikan sensasi geli disetiap permainannya. Keringatku mulai bercucuran, tubuh cody pun sudah dipenuhi dengan keringat, padahal kamar kami ber ac "cod..dy" erangku kecil. Ada sesuatu yang sakit menyerang bagian tubuhku.Tanganku meraih satu remote kecil dan mematikan lampu. Kini hanya ada lampu remang2 yang menemani malam kami.

Part 32

Like My Promise (Part 32)

Stella pov #Skipp

"Hun sudah renangnya. Nanti kau masuk angin, ini pakaianmu" aku membawakan kaos dan celana pendek untuk suamiku cody, sudah 3 minggu kami menempati rumah baru ini. Rumah luas bergaya klasik ini benar2 memiliki ukuran besar, malah aku pikir ini terlalu berlebihan jika yang mengisinya hanya aku dan cody. Di tengah2 rumah terdapat kolam renang. Cody sengaja membuat kolam renang ini didalam rumah, dia bilang ini akan membantunya untuk menyalurkan hobi renangnya. Dan ya, aku hampir lupa, sekarang dia tengah berkutat dengan kertas2 kantor dan dia juga belakangan ini hobi membuat lagu. Banyak hal baru yang aku temukan darinya "baiklah, cukup 30 menit. Trimakasih telah menyiapkan bajuku" cody mengecup keningku dan memeluk tubuhku "cody badanmu basah" gerutuku "oh maafkan aku. Aku lupa sayang. Ayo kita ganti baju" cody menarik tanganku "jangan mulai hun" ujarku memutar bola mata jengah. Cody menghela nafas dan melepas genggamannya "baiklah, aku minta maaf" ujarnya lalu berlalu. Aku menatapi punggung nya yang semakin menjauh. Memang kami sudah 3 minggu resmi menjadi suami istri, tapi kami belum pernah melakukannya. Entahlah, cody hampir setiap malam merayuku, Tapi aku merasa belum siap, aku merasa ini bukan waktu yang tepat..

*Cody pov*

"apa lagi yang belum terbeli ?" aku berjalan lunglai sembari membawa keranjang berisikan beberapa keperluan rumah tangga kami "pembalut" stella menjawab pertanyaanku dengan senyum yang mengembang "kau datang bulan ?"
"tidak, tapi mungkin minggu depan. Untuk persiapan" stella mengambil beberapa bungkus pembalut lalu meletakannya di dalam keranjang lagi. Aku tersenyum kecil, aku selalu heran kenapa stella selalu menolak melakukan hubungan itu ? Maksudku, bukannya aku nafsu. Tapi apa salah aku meminta itu padanya ? Toh dia istriku, dalam janji pernikahan pun dia berjanji akan melayani ku sepenuh hati. Aku mencoba berfikir positif, mungkin dia memang belum siap "hai Mr. Simpson" seseorang menepuk bahuku "ah hai david. Sedang apa ?" aku menjabat tangan david, kebetulan david adalah tetangga kami, rumahnya di blok D, sedangkan aku di blok C "menemani istriku belanja. Kau sendiri ?"
"haha kita sama, aku menemani stella belanja beberapa keperluan dapur"
"hai david, mana istrimu claris ?" stella datang menghampiri dengan membawa beberapa buah ditangannya "claris, ini stella mencarimu" david memanggil istrinya. Wanita bernama claris itu datang "hai stella senang bertemu denganmu" ujarnya memeluk stella "me to cla" jawab stella "apa yang kau beli itu ?" stella bertanya saat melihat tangan claris memegang beberapa kotak dus "ah, ini susu kehamilanku. Aku tengan mengandung ella, sudah 3 minggu" ujarnya lalu mengelus perutnya "waw selamat" stella menjabat tangan claris "bagaimana denganmu ? Apa sudah ada tanda2 kehidupan didalam perutmu ?" Stella terdiam sebelum beberapa detik kemudian menatap wajahku. "belum, istriku belum mengandung. Kami sudah mencoba, tapi mungkin tuhan belum memberinya" aku menjawab pertannyaan claris sembari merangkul tubuh stella "hmm, aku harap kau segera menyusulku ella" ujar claris "iya, hanya menunggu. Kami duluan david" aku memutuskan untu mengakhiri perbincangan ini. Aku dan stella pun berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaan kami

Stella pov

"Mau aku buatkan teh ?" aku menghampiri cody yang tengah mengetik beberapa proposal diruang kantornya "tidak, trimakasih" ujarnya tanpa menatapku "jam 9 malam, pergilah tidur" lanjutnya lagi. Aku menatap mata damainya, tidak ada senyuman tidak ada kecupan atau pelukan, ada apa dengannya ? Apa ini karna ucapan claris yang menyinggung hubungan kami ? Aku memilih untuk diam "jangan tidur terlalu malam. I Love you" ujarku sebelum meninggalkannya. Aku kembali ke kamar dan menatap diriku di cermin "kenapa untuk melakukan hal itu sulit ? Kau membuat cody tersinggung ella, dia bahkan sudah mengatakan kepada orang lain bahwa hubungan itu telah terjadi. Padahal kenyataannya ? Ah, kenapa kau begitu bodoh ? Dia suamimu, bukankah seharusnya baik jika kau menuruti kemauannya ? Bukankah kau telah berjanji akan melayani nya ? Ingat dia suamimu" aku bicara pada diriku sendiri, ada perasaan bersalah disini. Dihatiku, aku merasa telah melanggar janji pernikahan itu. Mungkin ini saatnya. Aku tersenyum kecil, lalu membuka lemari besarku, mencari beberapa baju yang sedikit ketat. Siap tidak siap aku harus siap 

Part 31 (2)

Like My Promise (Part 31) 

Stella pov

Gila, ini benar2 gila ! Aku Menikah mendadak tanpa ada saksi. Hanya aku,cody,bibi grace dan paman erick. Kami ber 4 ada di dalam Gereja sekarang, paman erick baru saja menjemput kerabatnya yang kebetulan seorang pendeta. Jam menunjukan pukul 8. Dan kini aku berdiri di depan altar bersama cody, bersama pria yang benar2 aku cintai. Jujur aku bahagia, bahkan sangat bahagia, tapi apa ini yang harus hadapi ? Menikah tanpa sepengetahuan orang tua. Maksudku, tidak ada restu. Aku takut jika akhirnya pernikahan ini hanya menjadi malam petaka untuk kehidupanku. Tuhan, aku tau ini semua kehendak-MU, aku mengikuti dan semoga Kau memberkati pernikahan ini. Amin, aku melantunkan sepenggal doa itu "saudara cody robert simpson. Bersediakah anda menjadi suami dari wanita yang bernama Stella summer collin ?'
"Ya, saya bersedia"
"menjaganya dengan sepunuh hati. Melewati suka duka bersama sama ?'
"saya akan menjaganya sepunuh hati, dan berjanji akan melewati suka duka bersamanya"
"Saudari Stella summer collin. Bersediakan anda menjadi istri dari pria bernama Cody robert simpson ?"
"Ya saya bersedia"
"Melayaninya dengan sepenuh hati. Melewati suka duka bersama ?"
"saya akan melayaninya dengan sepenuh hati. Dan melewati suka duka bersamanya"
"Demikianlah kalian bukan 2 melainkan satu. Hendaklah kalian saling menjaga dan mencintai. Semoga pernikahan ini menjadi berkat dalam kehidupan kalian. Amin" sang pendeta meletakan tangannya di atas kepalaku dan cody. Memberi doa atas pernikahan kami. "saudara cody, sekarang wanita ini resmi menjadi istrimu. Silakan cium istrimu" sang pendeta mengelus pundak cody. Cody berbalik dan menatap mataku, wajahnya terlihat lelah. Tapi itu tidak menghilangkan ketampanannya. Aku tersenyum dan menatap wajah damainya. Dia suamiku, ya Tuhan aku sudah mempunyai suami sekarang dan aku sangat mencintainya. Jika aku memiliki kekuatan, aku ingin menghentikan waktu disini. Bahagia bisa memiliki dirinya sepenuhnya "cup" cody meletakan bibirnya di atas bibirku menggulumnya lembut "sekarang kau istriku. Dan tidak ada lagi pria lain yang boleh mendekatimu. I love you" cody berbisik lembut di telingaku, memberikan sengatan kecil yang menggelitik. Aku tersenyum dan menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya..

***

"Sial, apartmennya kosong ! Alli kemana kakamu pergi ?" wanita itu terlihat kesal, wajahnya seperti tomat yang benar2 matang "ku bilang aku tidak tau kylie. Lagipula cody sudah dewasa" alli tersenyum kecut menatap kylie "kau itu terlalu keras kepala. Tadi aku sudah bilang kan, kalau cody pasti tidak ada di apartmen stella. Sudahlah, lebih baik kita pergi sekarang"

"kau gila ? Aku tidak mungkin ikut ke aussie denganmu sampai bayi ini lahir. Aku butuh pertanggung jawaban cody"
"4 bulan lagi bayimu lahir kan ? Sudahlah, biarkan cody menenangkan otaknya selama 4 bulan kedepan. Kita urus bayimu di aussie saja, lagipula di aussie tidak ada yang mengenalmu. Atau mungkin kau mau menanggung malu ?" Alli menaikan halisnya, menatap wajah kylie tajam "tapi aku ingin 4 bulan kedepan cody menikahiku. Apapun alasannya aku tidak peduli"
"mudah saja, cody pasti akan tanggung jawab jika bayi itu benar2 anaknya. Well, lebih baik kita pulang. Kita harus terbang ke aussie besok pagi"

***

"kita menginap disini ?" stella mengangkat gaunnya sambil menaiki beberapa anak tangga "iya, kita menginap disini sampai besok pagi" cody tersenyum sambil memegang tangan stella erat "besok, kita bisa menempati rumah baru kita"
"rumah baru ?"
"iya, aku baru saja membeli rumah. Tapi rumah itu lumayan jauh dari pusat kota. Hanya ada sekitar 8 rumah disana" cody menjelaskan dengan sedikit berfikir "8 rumah ?"
"iya 8 rumah, dan baru terisi 4. Itu pun jaraknya berjauhan. Aku hanya ingin jauh dari kebisingan kota. Kita akan merasa benar2 berdua disana" cody memeluk stella dan mengecup lehernya. "aku ingin ganti baju. Gaun ini berat" gerutu stella sambil mengangkat gaun panjangnya kasar "ini, kaos dan celana punyaku. Pakailah. Tak apa kan ? Kita tinggal dadakan, tidak membawa apapun. Tapi aku sudah menyiapkan semuanya dirumah baru kita nanti"
"oke, jangan liat. Aku mau bertukar pakaian"
"tentu saja aku boleh melihatnya. Kita suami istri sekarang" cody tersenyum nakal. Stella memutar kedua bola matanya kesal "aku ganti baju dikamar mandi saja" ujarnya seraya berjalan menuju kamar mandi "sayang, cepat atau lambat. Aku akan melihatnya" cody berteriak dari kamar, suarnya terdengar nyaring di kamar mandi, stella menutup wajahnya dengan baju karna malu.

Part 31 (1)

Like my promise (part 31)

SPECIAL PART PANJAAAAANGGGGGGG Happy reading

Stella POV
Aku mengendarai mobilku membelah kota LA sore ini, mencari sosok cody yang belum tau dimana keberadaan nya sekarang, aku menghubungi hp nya namun tidak aktif, mendatangi beberapa temannya dan tetap tidak ada. Bahkan tempat dimana aku dan cody resmi berpacaran pun tidak ada. Ya Tuhan, aku benar benar khawatir, dimana pun kau sekarang. Aku sedang mencarimu cody. Aku menghentikan mobilku disamping sebuah kedai. Mengambil nafas dan menghebuskanya panjang, hampir setengah hari ini aku habiskan dijalan, terlihat gila dengan pakaian ku seperti ini “Cody cody cody, where are you?” aku berbacara pada diriku sendiri “Hai, bagaimana kabarmu ? melihat indahnya sore ini apa kalian tidak berminat melihat pantai ? aku rasa cuaca cukup mendukung” suara yang berasal dari radio itu seakan akan menyentakku. Pantai, ya bukankah cody suka pantai dan sunset ? pantai california. Aku rasa bukan satu masalah jika aku mampir kasana. Aku menginjak pedal gaas ku, berharap bisa menemuinya disana..

Author POV #Another place
“Tidak, aku harus menemukan cody sekarang. Bagaimana pun pernikahan ini harus terjadi. Nanti ap kata orang2 kalian mau reputasi perusahaan kalian turun ? brad, kau harus mencari anamu lagi” wanita berambut hitam itu membanting majalah yang sejak tadi ia pegang. “Aku lelah, aku sama skali tidak menemukan cody” brad angkat bicara, tubuh nya berkeringat “Alli, antarkan aku ke rumah stella. Aku tau di pasti disana” kylie mengambil jacket “Kau menyuruhku ? haha kau punya kaki, prrgilah sendiri” alli memasang wajah sinis, sepertinya dia benar2 tidak menyukai wanita yang ada di hadapannya “kau mulai berani melawan kaka iparmu?”
“kaka ipar ? haha aku tidak sudi memiliki kaka ipar sepertimu. Lagi pula kau tidak usah khawatir, aku baru saja pulang dari gedung yang kau sewa untuk pernikahanmu dan aku membatalkanya” alli berucap santai, dia memasukan beberapa butir permen kedalam mulutnya “Plakk”
“Berani sekali kau melakukan itu ? kau gila hah ? kakamu menghamiliku”
“Stop membicarakan hal itu, aku mengetahui cody seperti apa, aku lahir dari satu perut, aku mengenalinya lebih banyak darimu. You just know his name, not his story. Shut up !” Alli menatap mata kylie tajam seolah olah dia benar benar ingin memakan wanita di hadapannya itu “kau tau ? aku benar benar tidak sabar menunngu anakmu lahir, aku ingin membawa nya untuk test DNA. So just waiting kylie. Kau menggali kuburanmu sendiri. Dan umm mom dad, kalian terlalu rapuh untuk dibodohi wanita seperti dia” kylie mengepal jarinya, seolah olah dia merasa terpojok “no brad. Aku benar2 mengandung cucumu”
“stop kylie, ucapan alli ada benarnya. Kita memeng terlalu bodoh, aku bersumpah. Jika saat lahir anak itu bukan anakku cody. Aku akan menjebloskanmu ke penjara” angie angkat bicara setelah bebepapa saat tadi diam. Kylie merubuhkan tubunya diatas kursi, merasa tidak ada seorang pun yang mau mendengar penjelasannya

Stella POV

Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai dipantai ini, aku menemikan mobilku dam memparkirnya asal. Aku segera turun dengan gaun putih yang masih aku kenakan, aku memandang hamparan laut yang luas. Matahari di ufuk sana mulai turun, menghasilkan siluet siluet indah di atasnya, perlahan kakiku mulai menyentuh pasir, hangat dan lembut. Aku berjalan mendekati tepian pantai. Gulungan ombak itu sekan akan menyambutku, aku memejamkan mataku, merasakan hembusan angin yang menerpa wajahku. Mungkin ini stu alasan mengapa cody mencintai pantai “Aku merasakan kau ada disini cody” aku membuka mataku lalu tersenyum simpul. Aku mulai menyusuri tepian, berharap aku menemukan cody di depan sana “I have day everday waiting for you, darling don’t be afraid I love you for a thousand years” aku menyayikan sepenngal lagu itu, aku rasa lagu itu seperti mewakili perasaanku sekarang. Mataku mulai menangkap satu objek lain, di ujung sana seperti ada seseorang yang tengah berdiri, melempar gumpalan pasir keatas pantai. Aku berjalan menghampiri “Cody” aku berucap pelan, aku ingin menghampiri dia secara tiba tiba. Aku dapat melihatnya dengan jelas, aku berdiri dibelakan tubuhnya secara diam diam, menghirup aroma farpumnya yang khas “I miss you” ujarku dalam hati. Dia terlihat tampan dengan tuxedo nya, memperlihatkan betapa seorang prianya dia saat ini “egois ! kau terlalu egois untuk mempercayai kata kata kylie ! dan sipa taylor ? kau dengan mudahnya mendapatkan pria lain dan tidak memperdulikanku, dan kau berani memberikan tanganmu padanya. Padahal kau sudah janji tidak akan menyentuh pria lain selain aku. Mabuk dan pulang bersama pria lain, kau pikir aku tidak menguntit mu selama kita lost contact ? aku selalu mampir, menelponmu, mengikutimu. Tapi aaaahhh, kenapa harus ? dan satu lagi, aku sekarang menium aroma farpummu nona collin !” cody, dia seakan akan tengah bicara padaku, nada suaranya seperti menunjukan satu kesedihan, aku tersenyum mendengarnya “Masih ingin mengataiku ?”
“Tentu saja, aku kesal dan…” ucapannya terhenti, dia menggaruk rambutnya pelan merasa ada sesuatu yang lain dibelakangnya “hai simpson” aku memeluk tubunya erat, mencium lehernya lembut “Im sorry” ujarku berbisik “Stella ? ini benar2 kau ?” Cody berbalik dan memegang wajahku “Yes I am” ujarku tersenyum “I miss you” ujarnya lalu kembali memelukku “Maaf aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu” ujarku
“Pernikahan ? aku membatalkannya, aku tidak ingin ada wanita lain selain kau yang menjadi istriku. Aku akan buktikan jika aku benar benar tidak melakukan apapun pada kylie” cody menatap nanar kearaku “aku percaya kau cody, aku percaya, kau pria baik”Cody tersenyum “Kau mabuk kemarin ? dan siapa taylor ?” cody melepaskan pelukannya dan memasang wajah sedikit menakutkan, sepertinya dia mau mengintrogasiku “aku mabuk, dan taylor hanya teman. Dia tidak melakukan apa pun”
“menyentuh tubuhmu ? jangan berbohong. Aku tau” cody meletakan tangannya diatas wajahku, wajahnya semakin mendekat, astaga aku rindu tatapan damainya. Semakin dekat dan dekat “Cup” cody menngulum bibirku singkat “itu untuk kelakuan gilamu yang mabuk” “Cup” cody kembali melatakan bibirnya diatas bibirku “Itu untuk langgaran janjimu yang berani menyentuh pria lain selain aku. Dan, ini ciumanku yang panjang karna aku sangat merindukanmu” aku terdia saat cody kembali menciumku, dia mencium bibirku penuh nafsu, menggulumya lembut, sesekali dia menggit bibir bawaku dan memainkan lidahnya, aku mulai mengikutu permainanya. Dia semakin liar dan menarik tububku masuk kedalam pelukannya, membuka pengikat rambutku dan menjabakknya pelan “kau cantik denag gaun ini” ujarnya disela sela permainan kami, tangannya mulai meraih kancing gaunku, membukanya satu persatu dan “Cody, kau mau melakukan itu disini ? ini pantai, lagi pula kita belum menikah “ aku melepas ciumannya dan meraih tangannya yang mulai nakal “maaf, hampir saja” ujarnya mengecup keningku “kau terlalu hot” lanjunya lagi, aku memutar jengah kedua bola mataku “aku benar benar akan menikahimu malam ini. Persetan dengan kylie, aku yakin restu orang tuaku akan datang nanti. Yang jelas aku ingin menikahimu malam ini, kita panggil bibi grace sebagai saksi. Kita sudah dewasa, dan kita yang menentukan jalan hidup kita sekarang. Kau mau menikah denganku ?” aku menelan lidah karna tidak percaya, aku terus menatap matanya. Seperti ada sebuah keyakinan didalamnya “malam ini ?” kataku tidak percaya “yes, this night, You will ?” aku tersenyum lalu memeluknya “Of course I will. I love You” ujaku “I love you more, kita temui bibi grace sekarang” cody menggegam tanganku, aku berjalan menuju mobil dan meletakan kepalaku di pundak nya..