Paradise pict

Paradise pict

Friday, February 15, 2013

Part 22

Like my promise (part 22)

Author pov

Gadis berambut coklat panjang itu duduk disebuah kursi panjang dengan perasaan gelisah. Sesekali dia berdiri dan menengok ke jendela pada sebuah pintu yang bertuliskan 'UGD' 
"stella duduk, coba untuk tenang" suara itu terdengar hangat dengan sebuah gengaman yang menyentuh pergelangan tangan gadis berambut coklat itu "bagaimana aku bisa tenang ? Sedangkan steve didalam sana sedang.."
"oke aku tau itu stella, kemari" pria berambut emas itu perlahan menarik tangan gadis yang bernama stella untuk duduk disebelahnya. Gadis itu tertunduk sendu dengan air mata yang terkadang menetes. Pria berambut emas bernama cody itu hanya dapat membawa stella kedalam pelukannya
"permisi, kalian kerabat steve ?" tiba2 seorang pria berperawak gemuk datang menghampiri mereka, dia membuka masker yang ia kenakan "iya dok, saya kerabat steve" jawab cody mendahului stella, sang dokter hanya memasang wajah pasrahnya, dia membuka masker yang tadi ia kenakan "steve kritis. Dia kekurangan banyak darah. Dan.." ucapan sang dokter terhenti dengan sebuah pertanyaan, expresi wajahnya berubah seketika "dan apa dokter ?" stella berucap emosi, tangannya menarik lengan baju sang dokter bernama melvin itu "dan, narkoba itu sudah menjalar ke otak dan pembuluh darah steve. Kami rasa steve tidak dapat bertahan lama. Jika Tuhan memberi mujizat pun steve akan cacat" dokter itu menjelaskan dengan penuh kegetiran. Stella, gadis itu hampir saja ambruk ke atas tanah, kakinya seolah2 tidak mampu lagi untuk menahan berat badannya. Lemas, itu yang dia rasakan sekarang, seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Cody dengan cepat menahan tubuh stella dan membawanya duduk diatas kursi "kami akan berusaha semaksimal mungkin. Steve ada didalam, kalian boleh melihat keadaan steve" ucap sang dokter lalu berlalu. Lorong rumah sakit itu kembali sepi, hanya ada suara tangisan getir yang terdengar "stella, lihat aku" cody meletakan kedua tangannya diatas pipi pucat stella "sekarang kita hanya dapat berdoa ella. Hanya itu yang dapat kita lakukan" cody mengusap pipi stella dengan ibu jarinya, seperti menandakan -kau tidak boleh seperti ini-
"aku sendiri, tidak ada siapa pun sekarang" stella bergumam dengan tatapan kosongnya, manik biru itu yang biasannya terlihat hangat kini terlihat dingin dan sangat berbeda "tidak ella tidak. Kau masih punya aku. Kau ingat janjiku kan ? Aku akan ada untukmu disaat kau dalam kondisi seperti apapun" cody mengatakan hal itu dengan menekan setiap kata2nya, sebuah pelukan hangat menyelimuti stella, gadis itu terbenam dalam dada bidang cody yang terasa hangat dan nyaman. "aku disini, aku akan terus merasakan apa yang kau rasakan. Kau tidak sendiri, kau punya aku dan aku punya kau. Itu akan menguatkan kita stella" ucapnya diakhiri dengan sebuah kecupan dipuncak kepala stella "kita lihat steve sekarang ?" cody melonggarkan pelukannya dan memegang pundak stella. Stella hanya mengangguk lemah, lengan cody merangkul pinggang stella erat, membantu stella untuk dapat berdiri dan jalan. Suara alat2 rumah sakit itu terdengar nyaring memenuhi isi ruangan ugd yang cukup luas. Seorang pria berpakaian rumah sakit terlihat terbaring lemah diatas sebuah kasur ber sparai putih, alat infus tertancap ditangan dan kakinya, alat bantu nafas dan pemicu jantung terpasang di hidung dan dadanya. Gadis bernama stella itu mendekatinya, tangannya memegang tangan pria bernama steve itu erat "kau mau bertahan untukku ?" stella berbisik di telinga kanannya lalu mencium pipinya lembut. Tidak ada respon, hanya alat2 itu saja yang terus terdengar "ini aku stella, aku disini sayang" ujar stella masih memegang tangan steve erat. Cody hanya tertunduk melihat kebersamaan stella dan steve yang tidak memberikan stella sebuah senyuman. Tak lama tiba2 tubuh steve kejang2 hebat, nafasnya mulai tidak beraturan. Tubuhnya semakin berguncang hebat "steve" ujar stella panik "biar aku panggilkan dokter melvin" ujar cody lalu berlari keluar dari dalam ugd "steve, kau kenapa ?" hanya kata2 itu yang dapat stella keluarkan. Dia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan sekarang ~

No comments:

Post a Comment