Like My Promise (part 19)
Author pov #Skipp
Matahari beranjak naik menyinari bumi, sinar hangatnya terpapar cerah menyentuh permukaan bumi. Orang2 diluar sana mulai melakukan aktifitas rutinnya di pagi senin ini, suara riuh kendaraan diluar sana semakin menghidupkan kegiatan pagi hari ini. Seorang gadis cantik berambut coklat masih tertidur pulas di atas sprai bergambar bendara australia itu, tubuhnya masih terbaring nyenyak di atas kasur empuk berbalut selimut tebal itu
Stella pov
"KRIIIINGGGG" bunyi alarm itu berdering tepat disamping telingaku. Ugh, mengganggu saja. Terpaksa aku membuka kelopak mataku perlahan, aku menatap kosong ke arah langit2 kamar. Seperti bukan kamar apartmenku, batinku. Kepalaku menengok kearah jendela, tidak ada gorden bergambar laut disana. Hey ini kamar siapa ? Ujarku kaget sprai nya pun tidak berwarna biru muda. Ini gambar bendera australia ! Aku menoleh ke arah kanan, aku merasa ada sebuah sentuhan hangat yang menggengam tanganku. Astaga, cody tidur disamping kasur, dia tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang berbantal kasur. Kedua tangannya memegang tanganku erat, ini apartmen cody ! Aku mendekati wajahnya yang masih tertidur, ku perhatikan setiap inci wajahnya. Dia tampan ternyata, matanya, hidungnya, bibirnya. Dia.. Benar2 tampan. Batinku, namun aku masih bingung kenapa aku bisa bermalam di apartmennya ? "cody" sapaku mengelus pundak tangannya, cody menggeliat kecil namun kembali tertidur "hey, ayo bangun" ujarnku menepuk punggung tangannya (lagi) cody perlahan membuka kelopak matanya dan mengucak matanya menggunakan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya masih memegang tanganku. Aqua eyesnya terbuka lebar, mata biruku menangkap matanya. Sangat damai, aku merasa tenang jika menatap mata indah miliknya "kau sudah bangun ? Bagaimana tidurmu?"tanyanya mengelus rambut coklatku "nyenyak. Oh iya, kenapa aku bisa bermalam disini ?"tanyaku "semalam saat pulang dari pemakaman kau tertidur di mobil. Aku hendak mengantarmu pulang ke apartmen, tapi aku tidak tau kata sandi untuk membuka pintunya. Ja..di.."
"jadi kau membawaku kesini ? Orang tua dan adikku sudah pergi ya" ujarku tertunduk, butiran berlian itu tiba2 jatuh disudut mataku "hey sudah, jangan menangis lagi. Kau masih mempunyai aku" ujarnya, ibu jari cody mengelus pipiku lembut, menghapus sisa air mataku yang terjatuh "kau akan lebih cantik saat kau tersenyum" ujarnya tersenyum manis "percayalah, aku tidak melakukan apapun padamu" lanjutnya lagi, aku tersenyum kecil "kau mau sarapan apa hah ?"tanyanya lembut. Jari2nya meremas tanganku hangat "boleh aku bertanya sesuatu ?" ujarku mengalihkan pembicaraan "go ahead"
"dimana kylie ?"tanyaku to the point "ada, hanya saja dia tengah bersama mantanya" ujarnya dingin, aku tersenyum kecut "bersama mantannya ? Memang kau tidak cemburu ?"tanyaku heran "selama itu bisa membuatnya senang, bukan masalah. Justru aku lebih cemburu jika melihatmu bersama steve" ujarnya menarik hidungku "aw sakit" gerutuku kesal "wle" cody hanya menjulurkan lidahnya lalu pergi berlari "cody !" panggilku lalu mengejarnya. Kami berlarian kecil mengintari kasur, ruang santai dan dapur "haha, kau tidak bisa menangkapku kan" ujarnya disela sela permainan kami "ih cody. Kemari kau" ujarku lalu semakin berlari cepat "tunggu" cody mengancungkan 5 jarinya ke arahku "apa ? Jangan bermain licik" ujarku kesal "daaar" cody menunjukan mainan karet ular ke arahku "aaaa cody kau licik" teriakku berlari menjauhinya cody hanya tertawa lalu terus mengejar aku "I get you !" ujarnya menangkapku, tangan cody memeluk pinggangku erat "no cody. Stop it !" seruku takut karna cody masih memegang mainan ular itu. Cody menggendong tubuhku dari arah belakang lalu memutar tubuhku pelan "haha cody, aku takut jatuh !" ujarku takut. Cody menurunkanku ke atas kursi di ruang tengahnya, dia memperlakukanku seperti seorang anak kecil, tapi aku bahagia dia bisa membuatku tertawa lepas. Aku nyaman didekatnya, aku berdiri diatas kursi dan cody dibawahku. Kepalanya tepat dibawah daguku. "mau bermain curang lagi?"tanyaku sinis "no, aku senang melihatmu tertawa puas" ujarnya, tangan cody menarik pinggangku dia kembali menggendong tubuhku. Mata indah kami saling beradu, wajah kami hanya berjarak beberpa inci sekarang, aku merangkul lehernya. Semakin dekat dan dekat, aku memiringkang wajahku dan mencium pipinya cepat. Entah apa yang merasuki diriku sekarang, hanya saja ada sebuah dorongan yang membutku berani mencium pipinya. "trimakasih" ucapku berbisik lembut di telinganya, cody memeluk tubuhku erat dan sesekali mencium rambut panjangku hangat ~
No comments:
Post a Comment